Jokowi – Ma’ruf Unggul di Emak-emak

Jokowi – Ma’ruf Unggul di Emak-emak

Mengaku disukai kaum emak-emak (ibu-ibu), Sandiago Uno nampaknya harus gigit jari dahulu, lantaran hasil survei malah mengguli Jokowi yang lebih disukai para emak-emak.

Hasil survei LSI Denny JA (Lembaga Survei Indonesia) menunjukan unggulnya Jokowi-Ma’ruf,  di sejumlah kelompok masyarakat. Dan tak hanya itu, LSI juga menganalisis keunggulan dua pasangan calon di enam kantong suara. Skornya adalah Jokowi-Ma’ruf vs Prabowo-Sandi 5-1.

Survei digelar pada 12-19 Agustus 2018 dengan menggunakan metode multistage random sampling. Wawancara dilakukan secara tatap muka ke 1.200 responden, dengan dilengkapi focus group discussion dan wawancara mendalam. Survei dipaparkan peneliti LSI Denny JA Adjie Alfaraby.

Enam kantong suara yang disurvei LSI Denny JA adalah pemilih muslim, pemilih non-muslim, pemilih wong cilik (masyarakat berpendapatan di bawah Rp 2 juta/bulan), pemilih emak-emak, pemilih terpelajar, dan pemilih milenial.

Jokowi-Ma’ruf menang di 5 kantong, termasuk emak-emak, dan hanya kalah di kantong suara kaum terpelajar.

“Jokowi unggul di kalangan perempuan. Ini coba diambil Prabowo-Sandi, tetapi pengaruhnya belum signifikan. Keunggulan sampai dua digit,” ujar Adjie di kantor LSI Denny JA, Graha Dua Rajawali, Rawamangun, Jakarta, Selasa (21/8/2018).

“Kaum terpelajar ini minimal pendidikan S1. Prabowo-Sandi unggul,” imbuh dia.

Menanggapi hasil LSI, Sandiaga Uno angkat bicara. Dia mengatakan akan bekerja lebih keras untuk memberi solusi kepada masyarakat. Namun dia juga mengklaim timnya memiliki survei internal yang hasilnya berbeda.

Di sisi lain, pakar komunikasi politik dari Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Nyarwi Ahmad menilai calon presiden Prabowo Subianto memang perlu melakukan political re-branding. Ini dilakukan agar elektabilitas capres yang diusung Partai Gerindra, PAN, PKS, dan Gerindra itu bisa naik.

Political re-branding bisa diarahkan, selain untuk memperluas pangsa pasar politik, khususnya milenial, juga untuk mendiferensiasikan positioning dia secara kontras dengan Jokowi-Ma’ruf Amin,” kata Nyarwi, seperti dilansir detikcom, Kamis (23/8).

Hanya, dia mengingatkan, political re-branding harus dilakukan secara halus. Apabila terlalu kontras dengan penampilan dan gaya Prabowo yang sekarang, bisa jadi justru dianggap aneh. Belum lagi target pemilih milenial yang akan disasar dengan perubahan penampilan tersebut.

Re-branding yang kurang pas, Nyarwi melanjutkan, bisa menyebabkan pemilih lama berkurang. Padahal belum tentu pemilih milenial yang ditarget bertambah. “Jika itu yang terjadi, jelas kontraproduktif,” papar dia.

(BBS/Adfil)

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Tinggalkan Balasan