Ahmad Dhani soal #2019GantiPresiden: Ada yang Menekan Polisi

Ahmad Dhani soal #2019GantiPresiden: Ada yang Menekan Polisi

Inisiator deklarasi gerakan #2019GantiPresiden Ahmad Dhani menduga polisi berada di bawah tekanan pihak tertentu sehingga melarang penyelenggaraan acara Deklarasi #2019GantiPresiden di sejumlah wilayah Indonesia pada Sabtu (25/6) silam.

Dia berpendapat pihak yang bersalah dalam batalnya penyelenggaraan acara Deklarasi #2019GantiPresiden di Pekanbaru, Riau dan Surabaya Jawa Timur dengan diusirnya Neno Warisman dan dirinya selaku inisiator bukan merupakan kesalahan polisi.

“Sebenarnya yang salah bukan polisi, ada yang menekan polisi. Ada kekuatan lain di luar polisi,” kata Dhani kepada wartawan di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan pada Senin (27/8).

Namun, Dhani enggan membeberkan secara lugas pihak tertentu yang dimaksud itu. Ia hanya berkata pihak tertentu itu memiliki kekuatan kewenangan lebih tinggi yang kemudian memaksa polisi mengeluarkan larangan terhadap penyelenggaraan acara Deklarasi #2019GantiPresiden.

“Saya tidak mau sebutin siapa, ada kekuatan yang lebih tinggi dari polisi sehingga polisi berbuat seperti itu,” ucap politikus Partai Gerindra itu.

Lebih jauh, Dhani menyatakan insiden pengusiran dirinya di Surabaya pada Sabtu (25/8) silam tidak akan mengurungkan niatnya untuk terus mendeklarasikan #2019GantiPresiden.

Dia mengaku sudah memiliki ide baru untuk mendeklarasikan tagar tersebut yakni dengan membuat turunan gerakan itu ke level regional, seperti #Surabaya2019GantiPresiden.

Dhani mengatakan, dirinya tengah menghubungi sejumlah tokoh masyarakat untuk mencari tanggal deklarasi gerakan regional #2019GantiPresiden di Surabaya.

“Saya punya ide bahwa gerakan ini bisa menjadi sub, misalnya #Surabaya2019GantiPresiden. Saya sudah menghubungi beberapa tokoh guna mencari tanggal untuk mendeklarasikan,” ucap dia.

Dhani menambahkan dirinya akan memfokuskan diri pada gerakan ini dan tidak masuk dalam Tim Pemenangan Pasangan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno di masa kampanye Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019.

Pentolan grup musik Dewa 19 itu mengaku lebih nyaman berada di gerakan #2019GantiPresiden dibandingkan dalam Tim Pemenangan Prabowo-Sandi.

“Saya lebih tertarik dengan gerakan #2019GantiPresiden, kalau saya ikut tim pemenangan ada aturan mainnya, kalau di gerakan ini saya lebih bebas,” kata dia.

Neno dan Dhani, dua sosok yang akrab dengan gerakan #2019GantiPresiden, dilarang menghadiri acara Deklarasi #2019GantiPresiden di dua lokasi berbeda. Neno di Pekanbaru, sedangkan Dhani di Surabaya pada Sabtu (25/8).

Neno diadang ratusan orang di gerbang Bandara Sultan Syarif Kasim (SSK) II Pekanbaru, Riau, Sabtu (25/8) sore. Tokoh penggerak #2019GantiPresiden akhirnya memutuskan pulang ke Jakarta setelah diminta pulang oleh kepolisian setempat dengan alasan keamanan.

Sementara Dhani ditolak oleh kelompok masyarakat yang tak setuju dengan kegiatan tersebut setelah mendapat penolakan dari massa anti #2019GantiPresiden. Kedua massa antara yang pro dan anti sempat ricuh. Mereka sempat terlibat saling dorong namun dapat dipisahkan pihak kepolisian.

Polisi kemudian membubarkan kedua massa yang anti dan pro #2019GantiPresiden. Mengingat dari awal polisi memang tidak mengeluarkan izin untuk deklarasi gerakan ini dilaksanakan di Surabaya.

Kadiv Humas Polri Irjen Setyo Wasisto menyatakan acara Deklarasi #2019GantiPresiden dapat berpotensi menimbulkan gangguan ketertiban masyarakat serta mengancam persatuan dan kesatuan bangsa.

“(Acara Deklarasi #2019GantiPresiden) dapat potensi terjadi gangguan terhadap ketertiban umum dan mengancam persatuan dan kesatuan bangsa,” kata Kepala Divisi Humas Polri Inspektur Jenderal Setyo Wasisto dalam keterangan tertulis.Cn/fil

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Tinggalkan Balasan