Santyoso Tio, Ahli Waris Korban Pembantaian Jepang Peristiwa Mandor Berdarah

Santyoso Tio, Ahli Waris Korban Pembantaian Jepang Peristiwa Mandor Berdarah

Pontianak, Metro Lima, Santyoso Tio, SH, MH, ahli Waris Korban Pembantaian Jepang dalam Peristiwa Mandor Berdarah 76 Tahun lalu masih ingat betul peristiwa yang membuat dua kakeknya jadi korban pembantaian Jepang dalam peristiwa Mandor berdarah.

“Saya masih ingat betul, bagaimana kepedihan orang tua dan neneknya bertahun-tahun. Ditinggal orang yang disayang, di usia muda,” cerita Santyoso Tio, SH,MH, Minggu (28/6), saat Webinar Nasional
Dengan Tema Menguak Peristiwa Mandor dan Implementasi Bagi Kalbar.

Menurut, Hari ini 28 Juni adalah hari bersejarah bagi kita semua bahwa pada 76 tahun lalu. Para Pejuang kita telah menyumbangkan jiwa raganya
demi kemerdekaan bangsa kita Indonesia.

“Sejak kecil saya merasakan kepedihan yang ada dalam keluarga kami, terutama nenek saya yang menjanda sejak ditinggalkan kakek saya pada umur 34 tahun dan ayah saya yang kehilangkan Bapak nya pada
Umur 14 tahun,” kenang Santyoso Tio saat Webinar Nasional dengan Tema Menguak Peristiwa Mandor dan Implementasi Bagi Kalbar.

Katanya, Kakek saya Tio Pia Cheng ditangkap tentara Nippon satu hari setelah pulang rapat dari Pontianak bersama Raja Saunan Ketapang.

“Penangkapan dirumah kami di pagi buta lalu disungkup, setelah itu dijanjikan akan dilepaskan asal menyerahkan semua perhiasan dan barang berharga, tetapi ternyata hanya bohong belaka,” cerita Santyoso Tio.

Kemudian dapat laporan dari ABK bahwa Kakek saya dan Raja Ketapang sebanyak 9 orang sudah diangkut ke Pontianak dengan Kapal keluarga kami dan semuanya dimasukan didalam drum minyak dan diletakan dalam palka.

Kemudian setelah Jepang menyerah dari Catatan mereka, Kakek saya telah dipancong
di Mandor. Berbeda dengan Kakek saya dari sebelah Bapak Tio Pia Cheng ditangkap
pada gelombang pertama, Kakek saya dari sebelah ibu Lim Bak Yong yang menjabat Lotay Ketapang saat itu ditangkap pada gelombang ke 3.

Menurut pemberitaan BORNEO Shinbun pada waktu itu, dua puluhan ribu orang yang ditangkap dan hukum mati itu adalah pemberontak.

Tidak dapat dipungkiri bagi kami keluarga masih menyimpan luka terhadap kekejaman tentara penjajah jepang yang membunuh orangtua kami dan merampas kekayaan keluarga kami, namun disisi lain kami merasakan kebanggaan yang luar biasa karena pengorbanan Kakek tidak sia sia dan semangat pengorbanannya telah ikut
menyongsong Kemerdekaan Negeri tercinta Indonesia.

“Kami sebagai ahli waris sangat berterima kasih kepada Pemerintah Provinsi Kalbar
yang telah membangun dan pugar Makam Juang Mandor serta penetapan Tanggal 28 Juni sebagai Hari Berkabung Daerah Provinsi Kalbar dan pengorbanan dan jasa jasanya para Pejuang dicatat dalam sejarah pengorbanan dan jasa-jasanya para pejuang dicatat dalam sejarah pejuangan bangsa dan diakui sebagai Perintis Kemerdekaan,” ceritanya.

Dari Peristiwa Mandor, kesan-kesan yang dapat saya sampaikan diantaranya Makam Juang Mandor mencerminkan persatuan dan Kesatuan Bangsa Indonesia, karena disini dimakamkan korban dari seluruh suku atau etnis yang ada di nusantara.

“Kita semua bersaudara, dimana jasad-jasad orangtua kita sudah satu liang kubur, jangan lagi ada pihak-pihak yang mencoba-coba mengadu dombakan kita dan mencari-cari perbedaan diantara kita. Itu harus kita lawan,” pesannya.

Dijelaskannya, Hendaknya semangat persatuan dan kesatuan tersebut menjadi
kekuatan dan tekat kita bersama untuk membangun masa depan Bangsa yang lebih baik lagi.

“Saya sangat yakin tertinggalnya IPM Kalbar saat ini sangat erat hubungannya dengan peristiwa Mandor karena 20ribuan korban itu adalah elite-elite Kalbar mulai dari Raja, Pejabat, tokoh agama, Dokter, Guru, Pengusaha dan intelektual lainnya dan menurut kata orang kite kehilangan 1 generasi. Maka sewajarnya kita menuntut
tanggung jawab Bangsa Jepang agar dapat membantu Pemerintah daerah, Pak Gubenur dalam upaya peningkatan kualitas SDM,
pelayanan kesehatan dan mengentas kemiskinan, kita tidak minta prampasan perang, tapi kita minta perhatian, bantuan dan kerjasama,” ujarnya. Hadysa prana

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Tinggalkan Balasan