Pulau Burung Konsep Dasar Pengembangan Ekowisata Provinsi Jambi

By: On:
Pulau Burung Konsep Dasar Pengembangan Ekowisata Provinsi Jambi

Metrolima Jambi.beberapa pulau kecil yang terancam  punah karna kurangnya perhatian pemerinta dalam hal pelestarian(perawatan)pulau pulau yang ada di prov Jambi trutama di kabupaten Tanjang Jabung Timur Provisi Jambi kini datang ide dari Ketua Himpunan Pariwisata Indonesia (HPI) Cabang Tanjung Jabung Timur,mengingat sangat minimnya jumlah pulau yang ada di daerah ini maka lahirlah ide ide cemerlang dari arie suryanto selaku pemerhati lingkungan daerah ini dan akan mengajak pemerintah setempat sama sama membangun pulua tersebut.

Paparan Ketua Himpunan Pariwisata Indonesia(HMI) Tanjab tim

p1. Pembangunan daerah diharapkan akan diikuti dengan meningkatkan kesejahteraan masyarakatnya, namun sering dijumpai fungsi/peranan lingkungan telah menurun dari waktu ke waktu; artinya jumlah bahan mentah yang dapat disediakan lingkungan alami telah semakin berkurang dan menjadi langka, kemampuan alam untuk menyediakan kesenangan dan kegembiraan langsung juga semakin berkurang karena banyaknya sumberdaya alam dan lingkungan yang telah diubah fungsinya. Pembangunan pedesaan saat ini masih memerlukan perhatian secara komprehensif dari pemerintah. Kondisi pembangunan pedesaan dengan percepatan pembangunan kurang berkembang yang diakibatkan  kurangnya dukungan partisipasi masyarakat dalam meningkatkan pembangunan di pedesaan. Hal tersebut sesuai dengan Arahan Kebijakan Pembangunan Nasional di Pedesaan yaitu “mempercepat pembangunan pedesaan dalam rangka pemberdayaan masyarakat terutama petani melalui penyediaan prasarana, pembangunan dalam sistem agribisis, industri kecil dan kerajinan rakyat, pengembangan kelembangaan, penguasaan teknologi dan pemanfaatan sumberdaya alam”.

  1. Pada hakekatnva, pengertian ekowisata adalah suatu bentuk wisata yang bertanggung jawab terhadap kelestarian alam (natural area), memberi manfaat secara ekonomi dan mempertahankan keutuhan budava bagi masyarakat setempat. Atas dasar pengertian ini, bentuk ekowisata pada dasarnya merupakan bentuk gerakan konservasi yang dilakukan oleh penduduk dunia. Ecoturism Research Group yang membatasi tentang wisata bertumpu pada lingkungan alam dan budaya yang terkait dengan :

(1) Mendidik tentang fungsi dan manfaat lingkungan,

(2) Meningkatkan kesadaran lingkungan,

(3) Bermanfaat secara ekologi, sosial dan ekonomi,

(4) Menyumbang langsung pada keberkelanjutan.

 

  1. Ekowisata merupakan sebuah istilah baru yang masih sangat sering dibicarakan diberbagai negara saat ini karena melihat potensi untuk mengembangkan pariwisata baru dan mempromosikan konservasi alam disamping dapat memberikan keuntungan pada masyarakat lokal. Ekowisata sebagai suatu bentuk perjalanan wisata yang bertanggung jawab ke kawasan alami yang dilakukan dengan tujuan mengkonservasi lingkungan dan melestarikan kehidupan dan kesejahteraan penduduk setempat. Memperlihatkan kesatuan konsep yang terintegratif secara konseptual tentang keseimbangan antara menikmati keindahan alam dan upaya mempertahan kannya. Sehingga pengertian ekowisata dapat dilihat sebagai suatu konsep pengembangan pariwisata berkelanjutan yang bertujuan untuk mendukung upaya-upaya pelestarian lingkungan (alam dan budaya) dan meningkatkan partisipasi masyarakat dalam pengelolaannya.

 

  1. Destinasi yang diminati wisatawan ekowisata adalah daerah alami. kawasan konservasi sebagai obyek daya tarik wisata dapat berupa taman nasional, taman hutan raya, cagar alam, suaka margasatwa, taman wisata dan taman buru. Tetapi kawasan hutan yang lain seperti hutan lindung dan hutan produksi bila memiliki obyek alam sebagai daya tarik ekowisata dapat dipergunakan pula untuk pengembangan ekowisata. Area alami suatu ekosistem sungai, danau, rawa, gambut, di daerah hulu atau muara sungai dapat pula dipergunakan untuk ekowisata. Pendekatan lain bahwa ekowisata harus dapat menjamin kelestarian lingkungan.

 

  1. Menjaga tetap berlangsungnya proses ekologis yang tetap mendukung sistem kehidupan.
  2. Melindungi keanekaragaman hayati.
  3. Menjamin kelestarian dan pemanfaatan spesies dan ekosistemnya.
  4. Pemilihan ekowisata sebagai konsep pengembangan bagi wisata di dasarkan pada beberapa unsur utama, yaitu :

(1) Ekowisata sangat bergantung pada kualitas sumberdaya alam, peninggalan sejarah dan budaya;

(2) Ekowisata melibatkan masyarakat;

(3) Ekowisata meningkatkan kesadaran dan apresiasi terhadap alam, nilai-nilai peninggalan sejarah dan budaya;

(4) Ekowisata menumbuhkan pasar di tingkat nasional dan internasional;

(5) Ekowisata sebagai sarana mewujudkan ekonomi berkelanjutan.

 

Paradigma lama, pengembangan pariwisata lebih mengutamakan pariwisata masal, yaitu yang bercirikan jumlah wisatawan yang besar/berkelompok dan paket wisata yang seragam dan sekarang telah bergerak menjadi pariwisata baru, yaitu wisatawan yang lebih canggih, berpengalaman dan mandiri, yang bertujuan tunggal mencari liburan fleksibel, keragaman dan minat khusus pada lingkungan alam dan pengalaman asli. Dalam usaha pengembangannya Indonesia wajib memperhatikan dampak-dampak yang ditimbulkannya, sehingga yang paling tepat dikembangkan adalah sektor ekowisata dan pariwisata alternatif diartikan sebagai konsisten dengan nilai-nilai alam, sosial dan masyarakat yang memungkinkan adanya interaksi positif di antara para pelakunya.

 

  1. Pulau Burung, memiliki keanekaragaman hayati, namun sampai saat ini belum tersentuh untuk dikembangkan oleh pemerintah maupun masyarakat untuk dapat dimanfaatkan oleh masyarakat. Potensi pariwisata yang ada selama ini belum banyak dijadikan peluang untuk pengembangan pembangunan. Seiring dengan diberlakukannya otonomi daerah berdasarkan UU No. 23 Tahun 2014, maka Kabupaten/Kota memiliki kewenangan yang luas untuk dapat mengatur daerahnya sendiri, sehingga kegiatan pembangunan baik fisik maupun nonfisik di daerah terasa semakin intensif dan dinamis. Hal ini mengakibatkan banyak terjadinya pemekaran-pemekaran wilayah di sejumlah daerah di Indonesia.

 

  1. Kabupaten Tanjung Jabung Timur mempunyai kewenangan yang sangat luas untuk menentukan arah dan kebijakan pembangunan daerah. Untuk itu, diperlukan perencanaan yang sistemastis dan terarah sesuai dengan visi dan misi yang telah dituangkan dalam RPJMD Kabupaten Tanjung Jabung Timur. Oleh karena itu sangat membutuhkan ketersediaan data dan informasi yang dapat dipercaya dan komprehensif, khususnya tentang potensi pariwisata yang ada di dalam wilayah Kabupaten Tanjung Jabung Timur. Guna menunjang dan mencapai tujuan pengelolaan pariwisata, maka karakteristik potensi pariwisata harus dikenali dan diketahui dengan baik terhadap potensi yang akan di kembangkan, keragaman, jenis, dan dampak pemanfaatannya. Upaya yang dilakukan, antara lain melalui pendataan dan inventarisasi potensi pariwisata secara menyeluruh sebelum pengelolaan dan pemanfaatannya dilaksanakan.

 

  1. Dampak lingkungan pengembangan pariwisata berbentuk alamiah maupun buatan manusia merupakan hal yang terpenting dalam pembangunan industri wisata karena ketika wisatawan mulai datang maka perubahan terhadap lingkungan baik itu berupa lingkungan fisik maupun bilogis tentunya akan terjadi, sehingga dibutuhkan sebuah kebijakan dalam menata sebuah pengembangan wisata yang dapat memberikan efek positif dibandingkan dengan efek negatifnya. Dari sisi positif adanya keinginan dari pihak pengelola untuk

 

(1) Mempreservasi dan restorasi benda benda budaya seperti bangunan dan kawasan bersejarah;

(2) Pembangunan taman nasional dan taman suaka margasatwa;

(3) Melindungi dan menjaga pantai dari ancaman abrasi

(4) Mempertahankan hutan.

 

Dari sisi negatifnya kegiatan wisata akan menyebabkan

(1) Polusi suara , air dan tanah;

(2) Perusakan secara fisik lingkungan sekitarnya;

(3) Perburuan dan pemancingan;

(4) Pembangunan hotel yang megah tanpa melihat kondisi lingkungan;

(5) Perusakan hutan, monumen bersejarah, vandalisme.

 

9.Pengelolaan potensi pariwisata harus berorientasi kepada konservasi dan pemanfaatan secara berkelanjutan (sustainable use) untuk menjamin kelestarian dan keberlanjutan dengan menggunakan pendekatan yang bercorak komprehensif dan terpadu. Sehubungan dengan itu, tahun anggaran 2015 yang lalu telah dilakukan kegiatan penyusunan Rencana Induk Pengembangan Pariwisata (RIPPARDA) Kabupaten Tanjung Jabung Timur, sehingga kebutuhan akan data dan informasi tentang pariwisata secara komprehensif dapat terpenuhi yang secara terperinci adalah untuk: :

  1. Menyediakan suatu rencana dasar kegiatan yang dapat dipergunakan sebagai petunjuk dalam penyusunan rancangan induk di bidang pariwisata.
  2. Mensinkronkan rencana sektor atau sub sektor yang berkaitan dengan pemanfaatan potensi pariwisata yang telah ada dan juga sebagai acuan bagi instansi terkait secara tidak langsung.
  3. Menjadi dasar dan kerangka kerja dalam membuat program pengembangan pariwisata.
  4. Memantapkan koordinasi antar berbagai instansi dan dinas terkait dalam upaya pengembangan pariwisata.

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Tinggalkan Balasan