Pengamat: PDIP Bakal Kesulitan di Pilgub Jawa Barat

Pengamat: PDIP Bakal Kesulitan di Pilgub Jawa Barat
PDIP Perjuangan

Setelah sempat melabuhkan dukungan ke Ridwan Kamil, Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) akhirnya memutuskan mengusung kadernya sendiri dalam pilkada Jawa Barat. Menurut pengamat, hal ini membuat pilkada Jabar menjadi ‘medan pertempuran yang berat’.

Konstelasi politik di Jawa Barat memang sangat dinamis. Dengan jumlah pemilih terbanyak di seluruh Indonesia, yakni sekitar 35 juta pemilih, pemilihan gubernur provinsi ini dinilai menjadi faktor penentu dalam pemilihan presiden tahun depan.

Namun, pengamat politik dari Universitas Padjajaran Firman Manan memandang karakter pemilih yang religius dan merupakan pemilih tradisional yang memilih figur dengan popularitas tinggi, kans PDIP untuk menang di Pilgub Jabar sangat kecil.

“Artinya memang Jawa Barat agak sulit ditaklukan oleh PDIP, jadi ini medan pertempuran yang berat. Salah satu yang saya itu lihat adalah karakter pemilih, Jawa Barat itu salah satu karakter pemilih adalah pemilih yang religius,” ujar Firman, seperti dilansir kepada BBC Indonesia, Minggu (07/01/2018).

Pilihan realistis

Memilih TB Hasanudin-Anton Charliyan diakui Mega bukan proses yang mudah. Pasalnya, Jawa Barat adalah medan perang yang cukup riuh di pilkada serentak 2018. Beberapa opsi pun diakuinya muncul dari internal dan eksternal PDIP. Namun dirinya lebih memilih mengusung kader sendiri.

“Ini battle (pertempuran) ini. Saya waktu ngomongin Jabar ngamuk terus. Ada yang bilang, ini deh bu, gabung koalisi itu, atau inilah, itulah. Saya bilang ‘Tidak!’ Saya ini banteng, kalau sudah keluar kumis dan bilang tidak, sudah enggak ada yang berani ngomong,” kata dalam Pengumuman Enam Cagub-Cawagub PDIP di DPP PDIP, Lenteng Agung, Minggu (07/01) pagi.

Medan tempur yang berat

Dengan rekam jejak seperti itu, menaklukkan Pilkada 2018 menjadi hal yang sulit bagi PDIP. Belum lagi karakter pemilih di Jawa Barat yang notabene pemilih religius dan tradisional.

“Ada karakteristik pemilih yang religius, PDIP secara partai dianggap berjarak dengan Islam. Lalu yang kedua dalam karakteristik pemilih tradisional juga popularitas calonnya tidak mendukung sampai sejauh ini,” kata dia.

Popularitas dan elektabilitas pasangan yang diusung PDIP, menurutnya, kalah dengan rival mereka, seperti Ridwan Kamil – Uus Ruzhanul Ulum yang diusung koalisi PPP, PKB, Nasdem dan Hanura, Wakil Gubernur Deddy Mizwar -Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi yang diusung Golkar dan Demokrat, serta pasangan Sudrajat – Muhammad Syaikhu yang diusung oleh koalisi Gerindra, PKS dan PAN.

“Kalau kita lihat pasangan calon yang diusung PDIP, TB Hasanudin dan Anton Charliyan, bagaimana pun tingkat popularitas dan elektabilitasnya rendah dibandingkan calon-calon lain, ada nama Kang Emil, ada nama Kang Demiz (Deddy Mizwar) – Dedi Mulyadi. Itu yang juga membuat agak berat bagi PDIP dalam pilgub kali ini.

Apalagi, PPP dan PKB memiliki basis massa yang sangat besar di Priangan Timur dan Pantura.

Pasangan cagub dan cawagub yang diusung oleh poros Gerindra dan PKS juga tidak bisa dianggap enteng. Apalagi, keduanya memiliki mesin politik yang efektif. Paling tidak terbukti pada dua pilkada sebelumnya.

‘Berjarak dengan Islam’

Berkembangya Islam konservatif di Jawa Barat belakangan ini, menurut Firman, juga akan memanaskan tensi Pilkada Jabar ke depan.

“Bahkan kalau kita lihat perkembangan terakhir juga muncul kekuatan Islam yang konservatif. Sementara PDIP pada tingkatan tertentu itu dicitratkan berjarak dengan Islam. Itu yang saya pikir jadi persoalan, untuk konteks Jawa Barat bagi PDIP, kenapa PDIP terlihat sulit untuk menang di Jawa Barat,” ujar Firman.

(BBC/wo, Gun)

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Tinggalkan Balasan