Data 50 Ribu Warga Jakarta Positif HIV Disinggung di Rapat DPRD DKI

Data 50 Ribu Warga Jakarta Positif HIV Disinggung di Rapat DPRD DKI

Data 50 ribu warga Jakarta yang positif HIV disinggung dalam rapat Komisi E DPRD DKI Jakarta dengan Dinas Kesehatan (Dinkes). Komisi E mempertanyakan penanganan yang dilakukan dinkes terkait hal tersebut.

“Dinkes sebut lebih dari 50 ribu warga Jakarta terinfeksi HIV AID, kita mau tau penanganan terpadunya dari dinas kesehatan seperti apa?” ujar anggota Komisi E Yudha Pratama dalam rapat, di DPRD DKI Jakarta, Jl Kebon Sirih, Jakarta Pusat, Minggu (8/12/2019).

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) DKI Jakarta Widyastuti membenarkan bahwa DKI Jakarta merupakan epidemi terkonsentrasi dan sebagai populasi kunci. Dia menyebut populasi kunci merupakan kondisi di mana orang-orang memiliki perilaku seksual tidak aman.

“Betul jadi DKI Jakarta termasuk epidemi terkonsentrasi, ada 6 persen populasi, angka HIV adalah 5 persen tidak lebih adalah populasi kunci. Populasi kunci adalah, populasi dengan medis orang dengan perilaku seksual tidak aman, penggunaan narkoba suntik dan lain lain, termasuk ini cukup memprihatinkan,” kata Widyastuti.

Widyastuti mengatakan, penularan HIV saat ini paling tinggi terjadi melalui seksual yang tidak aman.

“Angka DKI yang dulu tertinggi adalah penularan dari jalur suntik yang tidak steril, sekarang sudh bergeser, sekarang angka tertinggi penularannya adalah melalui seksual yang tidak aman. Lebih memprihatinkan, terjadi progres yang sangat luar biasa, angka positif di golongan LSL yaitu kelompok laki-laki suka laki-laki,” tuturnya.

Untuk masalah penanganan, Widyastuti menyebut pihaknya memiliki program pemutusan rantai penularan pada ibu hamil. Nantinya ibu hamil dapat melakukan pengecekan HIV di puskesmas.

“Kami punya program pemutusan rantai penularan untuk ibu hamil, semua ibu hamil yang dateng ke puskesmas DKI dicek. Sehingga kalau positif kita terapi, kita kawal, kita dampingi, sehingga bayi yang dilahirkan negatif,” tuturnya.

Penanganan juga dilakukan dengan cara memberikan layanan antiretroviral (ARV) di puskesmas. Menurutnya, DKI menjadi satu-satunya provinsi yang melayani ARV di puskesmas.

“DKI satu satunnya provinsi yang pertama kali mendorong ARV bisa di puskesmas. Kalau dulu, provinsi lain hanya bisa di rumah sakit,” kata Widyastuti.

Sebelumnya, dalam data yang dimiliki Dinas Kesehatan DKI Jakarta menyebutkan ada lebih dari 50 ribu warga DKI yang berstatus positif HIV. Mereka umumnya berasal dari kelompok usia produktif yang masih bekerja.

“Sekitar 50 ribu lebih warga Jakarta positif HIV, AIDS-nya sendiri tidak banyak. Orang dengan status HIV positif kita harapkan bisa bekerja,” kata Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) DKI Jakarta Widyastuti, pada Sabtu (7/12/2019).
Gun/Fil

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Tinggalkan Balasan